TC lebih besar dari TR
Pada tulisan sebelumnya padahal saya udah ngaku cape ngetik. Tapi sepertinya tanggung yach… pengen curhat terus nih, mumpung blog ini pengunjungnya belum rame.. he he he..
Oke deh… perjuangan saya setelah shalat jum’at ternyata lebih seru. Yaitu pencarian tali plastik, karet gelang, peluit, dan sebagainya hingga DVD untuk handy cam, pembuatan surat peminjaman handycam, camera digital, megaphone, pokoknya seru deh. Ada yang saya lakukan sendiri, adapula yang bantu bang chandra. Tak terkecuali Agusriani, panitia yang sangat gigih ini rajin juga rupanya. Thanks all, friend! God bless you!
Kelegaan saya hampir mencapai puncak saat item2 terakhir yang harus saya kumpulkan ada di depan mata: Megaphone. Bahkan dengan megaphone itu saya berakting “Lebih Punya Taste..!!!” ha ha ha… lega rasanya.
Di saat yang bersamaan, saya, bang chandra, dan ria lagi menulis dan menghitung rekapitulasi pendapatan dan pengeluaran kami dalam acara out bound ini. Pendapatan panitia out bound ini hanyalah satu-satunya, yaitu dari uang pendaftaran setiap peserta. Pada awalnya sih pengen cari sponsor, tapi gagal maning bro! Coba aja lu baca tulisan2 gue sebelum ini, ntar juga ngerti.
Waktu itu udah menjelang magrib. Saya baru teringat kalau saya belum makan siang. Lalu saya coba memutar memori, rupanya saya juga belum makan pagi. Wah… gawat nih… lemes deh gue.
Disaat yang bersamaan, hasil penghitungan rekapitulasi pendapatan, pengeluaran, dan estimasi pengeluaran, rupanya pendapatan kami dari uang pendaftaran peserta tidak bisa menutupi pengeluaran kami pada acara out bound ini. Itu artinya, tidak ada profit bagi kami, yang ada adalah pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan. Kalo bahasa gaulnya: TC > TR = Total Cost lebih besar dari Total Revenue.
Yah… apa boleh buat, karena sudah terlanjut meminimalisir pengeluaran peserta untuk out bound demi menarik peserta lebih banyak, kami malah mengalami TC > TR.
Lalu saya konsultasi ke bang Indra selaku Top Manager di Inkubator Usahawan Muda. beliau memberikan solusi akan menambal kekuarang uang panitia out bound melalui keuntungan keude inkubator. Lalu saya diskusi sejenak dengan beliau tentang kebolehtidakan hal tersebut. Akhirnya beliau meyakinkan saya bahwa hal itu bisa saja dilakukan.
Saya agak sedikit merasa lega. Setidaknya kekuarangan uang panitia itu janganlah menjadi beban panitia, terlebih lagi bagi saya. Maklum, lagi kere banget neh… ngisi pulsa aja ngutang, he he he…
Lalu kabar baik ini saya sampaikan ke panitia lain dan menyuruh mereka untuk istirahat di rumah. Soalnya nih dah mau magrib.
Adzan magrib berkumandang dari mushalla al mizan fakultas ekonomi universitas syiah kuala. saya langsung meringankan langkah kaki menuju musholla dan menunaikan shalat magrib. duh… segarnya terkena air wudhu’ setelah seharian keliling-keliling kota,
hendak melihat dengan indah keramaian yang ada,
saya panggilkan becak,
kereta tak berkuda,
becak…! becak…! Tolong bawa saya…!
Setelah selesai shalat magrib, saya menemui pak Ismadjid (Direktur UKM CENTER FE UNSYIAH) yang sudah berada di dalam mobilnya dan hendak pulang. Saya hanya melaporkan kondisi keuangan panitia outbound dan beliau dengan seksama menyimak laporan saya.
Beliau lalu melihat isi dompetnya, lalu………… he he he… mau tau aja sih… rahasia loh!
No comments yet.